
Sahabat, sebagai makhluk yang memiliki fitrah tak dapat hidup sendiri, manusia pada hakikatnya sangat bergantung terhadap keberadaan orang lain dalam hidupnya. Contoh kecil saja, bagaimana pakaian yang saat ini kita kenakan. Pakaian itu adalah jerih payah orang banyak, mulai dari petani kapas, pemintal benang, penenun kain, pengrajin desain, penjualnya, hingga sampai kepada kita. Hal kecil ini saja, membuktikan bahwa manusia sejatinya hidup bergantung dengan uluran tangan orang lain.
Sebagai makhluk sosial, sudah sepatutnya manusia dapat menjaga kerukunan dan kenyamanan terhadap sesama. Maka dari itu, Daarut Tauhiid memiliki sebuah konsep untuk menjalin persaudaraan yang harmonis. Konsep tersebut ialah 2B2L, berikut pemaparannya;
B yang Pertama
Berani mengakui kebaikan dan jasa orang lain. Kehadiran orang lain dalam hidup kita pada hakikatnya adalah sebuah bentuk kebaikan Allah terhadap hambaNya. Ada yang mengukir cerita baik ketika hadir, ada pula yang menyisakan kenangan buruk ketika menyapa.
Sungguh, dua hal tersebut sejatinya telah Allah simpan hikmah berharga bagi kita. Jika mereka datang dengan kebaikan, berterima kasihlah dan jangan pernah luput untuk mendoakannya. Akui kebaikan mereka dengan menghargai apa-apa yang mereka beri.
B yang Kedua
Bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain. Allah, menciptakan makhluknya dengan segala kekurangan dan kelebihan. Maka, selayaknya kita dapat memaklumi bila ada orang lain yang menunjukkan kekurangan maupun kesalahannya.
Bijaklah dalam bersikap, meski menerima perlakukan yang kurang sedap. Lapangkanlah dada, dan tunjukkan akhlak mulia ketika menghadapi setiap peristiwa yang terjadi. Tetap berbuat baik, dan jangan sampai melukai hati orang lain dengan sengaja. Karena Rasulullah SAW, telah mencontoh kita melalui perjalanan dakwahnya. Sikap bijak dan akhlak mulia beliau, sudah sepatutnya kita teladani dalam mengarungi kehidupan ini.
L yang Pertama
Lihat kekurangan dan kesalahan diri. Setiap orang pasti tak luput dari kesalahan, begitu pula diri sendiri. Maka, jangan pernah lupa untuk selalu melihat kekurangan dan kesalahan diri sendiri.
Jangan terlalu sibuk mengoreksi orang lain, karena sejatinya, diri sendiri lah yang perlu di koreksi setiap hari, setiap saat. Sibuklah melihat kesalahan diri, dan bertekadlah untuk memperbaiki. Karena, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, bila ia tidak ingin merubah keadaannya sendiri (QS. Ar-Ra’d ayat 11).
L yang Kedua
Lupakan jasa dan kebaikan diri. Bila melakukan kebaikan seperti menolong orang lain, bersedekah, atau bahkan beribadah, anggap itu sebagai rahmat Allah. Tak perlu berbangga diri atas kebaikan yang telah kita lakukan. Semuanya, murni karena Allah menghendaki dan mengizinkan. Teruslah berbuat baik karena Allah, bukan karena penilaian manusia. Wallaahu’alam. (Noviana)





