
Suasana hangat dan penuh semangat terasa saat saya, bersama teman-teman dari STAI Daarut Tauhiid, mengikuti Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan dua kampus lintas negara yaitu STAI DT dan University Kebangsaan Malaysia (UKM). Kegiatan ini bukan sekadar diskusi biasa, tetapi lebih sebagai ajang pertukaran wawasan dan pengalaman, mempertemukan dua budaya akademik dalam satu ruang.
FGD ini mengambil bentuk sharing session yang membahas berbagai topik penting dalam dunia pendidikan tinggi. Topik pertama yang kami angkat adalah seputar sistem pengajaran di kampus masing-masing. UKM memaparkan secara mendalam bagaimana sistem pengajaran di sana berjalan, kami juga menjelaskan bagaimana proses belajar mengajar di dua program studi kami.
Pembahasan berikutnya, teman-teman dari UKM berbagi tentang dinamika belajar mereka yang sangat dipengaruhi oleh keberagaman latar belakang daerah asal mahasiswa, sehingga adaptasi dan kemampuan membaur menjadi nilai penting. Dari STAI DT sendiri, kami menekankan pentingnya refleksi diri dan keterlibatan aktif mahasiswa dalam mengevaluasi proses belajarnya. Kemudian kami juga membahas terkait bagaimana inovasi dan teknologi dalam pembelajaran.
“Yang paling membekas dalam hati saya adalah kehangatan dan keramahan dari teman-teman UKM. Meski berbeda negara, mereka begitu terbuka dalam berbagi cerita dan pengalaman. Rasanya seperti bertemu sahabat lama, padahal baru pertama kali saling sapa. Ini bukan hanya soal diskusi antar kampus, tapi juga membangun jembatan persahabatan dan kolaborasi lintas budaya,” ungkap Irwina.
FGD ini bukan hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menyadarkan kami bahwa dunia akademik itu luas dan penuh peluang. Relasi yang terbangun, semangat untuk terus belajar, dan kesadaran akan pentingnya penguasaan bahasa menjadi oleh-oleh paling berharga dari pertemuan ini. (Dian Safitri)





