
Masjid Daarut Tauhiid Batam dipenuhi semangat baru pada Senin (21/7). Lantunan takbir kecil terdengar dari bibir-bibir mungil yang masih terbata, tapi penuh harap. Itulah hari pertama Masa Bimbingan Santri (MABIMSA) di SMP Daarut Tauhiid Batam—sebuah awal perjalanan panjang yang tak hanya menandai status baru sebagai santri, tetapi juga sebagai pejuang ilmu dan akhlak.
Suasana yang mengharukan terlihat sejak pagi. Santri baru, sebagian masih menyimpan raut canggung, duduk berjajar dengan seragam rapi dan mata berbinar. Bagi mereka, inilah gerbang awal mengenal dunia baru—lingkungan pesantren yang tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Menurut Oka Raka Kuswanda, Humas SMP DTBS Batam, MABIMSA bukanlah sekadar kegiatan orientasi. Ia adalah proses pembinaan awal yang menyentuh banyak sisi: pembiasaan ibadah, kedisiplinan, hingga penanaman nilai-nilai khas Daarut Tauhiid seperti jujur, tangguh, dan bertanggung jawab.
“Kegiatan ini jadi momen perdana untuk santri baru mengenal lebih dekat lingkungan sekolah, nilai-nilai Daarut Tauhiid, serta membangun kebersamaan,” ujarnya.
Memasuki hari kedua, nuansa semangat semakin terasa. Santri mulai lebih aktif mengikuti agenda harian, mulai dari pembiasaan pagi hingga sesi penyampaian materi kebersamaan. Wajah-wajah yang semula canggung kini mulai merekah oleh senyum dan tawa. Kebersamaan tumbuh perlahan namun pasti.
Setiap sesi dirancang tidak hanya untuk menambah wawasan, tetapi juga menanamkan karakter. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, disiplin, dan ukhuwah menjadi benang merah dari keseluruhan rangkaian kegiatan. Semua dirangkai dengan pendekatan yang menyenangkan, agar santri merasakan bahwa belajar bisa menjadi pengalaman yang menyentuh hati.
Oka menambahkan bahwa seluruh rangkaian MABIMSA dirancang sebagai bagian dari proses pembentukan jati diri santri. “Semoga pengalaman ini menjadi bekal dalam menapaki perjalanan mereka sebagai pelajar yang berakhlak dan bertanggung jawab,” harapnya.
MABIMSA bukan sekadar rutinitas awal tahun ajaran. Ia adalah pondasi, tempat santri baru mulai mengenal jati dirinya. Dengan bimbingan para ustaz dan suasana lingkungan yang kondusif, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pijakan awal yang kokoh dalam membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan kokoh secara sosial.
Dari sinilah semuanya bermula. Di aula, di masjid, di lorong-lorong asrama—tempat-tempat kecil yang kelak menyimpan banyak cerita. Cerita tentang tumbuh, belajar, dan menjadi pribadi yang lebih baik. (Dian Safitri)





