Mengapa Kita Lebih Takut Nilai Jelek daripada Tidak Paham?

Home

Mengapa Kita Lebih Takut Nilai Jelek daripada Tidak Paham?

Mengapa Kita Lebih Takut Nilai Jelek daripada Tidak Paham?

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Pagi itu, seorang guru membenturkan kepala siswanya ke dinding hanya karena tidak memahami satu soal matematika. Di sekolah lain, siswa-siswa memasuki ruang ujian dengan wajah tegang, saling berbisik cemas: “Siapa yang mengawasi ujian kali ini?”

 

Satu kelas bersorak riang saat guru yang dikenal santai memasuki ruangan. Sementara di kelas lainnya, para siswa tertunduk kecewa, mereka harus menerima nasib diawasi super ketat oleh sosok yang mereka sebut “Guru Killer”. Mereka tidak berkutik.

 

Contekan yang sudah disiapkan pun ragu untuk dibuka, sementara di kelas seberang, para siswa sedang berpesta pora berbagi jawaban.

 

Realita di Balik Angka

Fakta ini membawa kita pada satu kenyataan pahit: Sistem pendidikan masa kini menekan anak-anak untuk memiliki nilai tinggi, bagaimanapun caranya. Generasi saat ini tertatih mengejar KKM dan segala persyaratan kelulusan yang hanya diukur dengan angka. Akibatnya, banyak yang lupa akan potensi diri sendiri.

 

Mengapa kita begitu takut pada nilai jelek? Karena nilai adalah hal yang paling disoroti, ada anak yang dimarahi saat nilainya kecil, ada yang didiamkan orang tuanya karena tidak meraih peringkat satu, bahkan, ada yang harus merasakan sabetan ikat pinggang saat angka-angka itu turun.

 

Banyak anak tumbuh di lingkungan yang hanya memuja hasil tanpa menghargai proses. Akhirnya, mereka merasa tidak berharga hanya karena selembar kertas ujian.

 

Fenomena inilah yang memicu jamurnya joki tugas, penggunaan AI yang tidak bijak, hingga kecurangan massal. Peserta didik berlomba-lomba mengumpulkan tugas bagus yang bukan hasil karya sendiri. Bagi mereka, mengamankan nilai jauh lebih penting daripada mendapatkan pelajaran.

 

Saatnya Sembuh

Kita harus sembuh dari penyakit sistemik ini. Mari mulai membangun lingkungan belajar yang sportif dan lebih manusiawi. Ciptakan ruang aman, baik di rumah maupun sekolah. Ruang yang tidak menghakimi saat gagal, yang membolehkan mereka bingung, dan yang memicu rasa ingin tahu untuk mencoba hal baru.

 

Hargai pertumbuhan, buatlah mereka mencintai proses bertumbuh, bukan hanya hasil akhir. Hapuskan kekerasan, orang tua dan guru harus menghapuskan kekerasan dalam mendidik. Mengutip Ibnu Khaldun, kekerasan hanya akan mematikan potensi anak.

 

Ruang belajar yang sehat dan aman adalah impian semua anak. Setiap anak berharga dengan apa yang mereka miliki. Jangan sampai penilaian yang berlebihan justru membuat mereka kehilangan kepercayaan diri. (Putri Pertiwi)