Puasa Digital, Seni Menjaga Lisan di Era Layar

Home

Puasa Digital, Seni Menjaga Lisan di Era Layar

Puasa Digital, Seni Menjaga Lisan di Era Layar

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Ramadhan bukan hanya ritual menahan lapar, ia adalah cermin kebersihan hati. Mengapa hati? Hubungan antara hati dan lisan ini sering diibaratkan dengan sebuah teko. Teko hanya akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Jika isinya kopi, maka akan keluar kopi. Jika isinya air putih, maka akan keluar air putih. Begitulah kiranya perkataan yang kita ucapkan, itulah sejatinya isi hati kita.

 

Tantangan di Balik Layar Kaca

Di era digital, menjaga lisan tak lagi sesederhana menutup mulut. Jempol kita kini menjadi perpanjangan lisan yang lebih tajam. Peluang untuk berkata sia-sia terbuka lebar setiap kali kita membuka aplikasi.

 

Seringkali, kita tanpa segan masuk ke kehidupan orang lain dan meninggalkan komentar yang tidak perlu. Belum lagi konten-konten kontroversial yang demi mengejar viewers, tega menggunakan kata-kata yang jauh dari kepantasan. Di sinilah letak ujian sesungguhnya.

 

Puasa sebagai Tameng

Ramadhan adalah momentum emas untuk melakukan reset. Rasulullah saw secara tegas memerintahkan kita untuk menjadikan puasa sebagai pelindung. “Puasa adalah tameng, apabila salah seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor, dan melakukan perbuatan bodoh.” (HR. Abu Hurairah)

 

Salah satu strategi paling ampuh saat ini adalah dengan melakukan Puasa Digital. Mari kita coba:

 

  1. 1. Batasi Durasi:Berikan batasan waktu bermain gawai, seketat kita membatasi waktu makan dan minum.
  2. 2. Alihkan Fokus:Ubah waktu scrolling yang melelahkan menjadi waktu berkualitas bersama Al-Qur’an.
  3. 3. Treatment Mental: Dengan menjauhkan diri dari kebisingan media sosial, niat untuk berucap sia-sia atau berbuat zalim secara digital akan berkurang drastis.

 

Kekuatan dari Sebuah Diam

Ingatlah, satu komentar yang kita anggap candaan bisa jadi adalah pedang yang memutuskan harapan hidup orang lain. Tidak semua lintasan pikiran harus tersaji di kolom komentar.

 

Rasulullah saw mengingatkan dalam hadisnya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam…” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Kesimpulannya, jika apa yang terlintas di pikiran tidak membawa manfaat, tidak berbuah kebaikan, atau justru berpotensi memicu fitnah, maka diam adalah tindakan yang paling utama. (Putri Pertiwi)