
Lisan adalah salah satu anugerah besar yang Allah SWT berikan kepada manusia. Melalui lisan, manusia dapat berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan mengekspresikan perasaan. Namun, di balik itu semua, lisan juga bisa menjadi sumber kebaikan atau keburukan tergantung bagaimana cara menggunakannya. Dalam Islam, menjaga lisan merupakan hal yang sangat ditekankan.
Dikutip dari buku Bahaya Lisan (2017) karya KH. Abdullah Gymnastiar, bahwa lisan memiliki potensi besar untuk menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan. Sebaliknya, ia juga menjadi penentu kemuliaan dan kehormatan seseorang.
Lisan dalam Perspektif Al-Quran
Allah SWT mengingatkan manusia untuk berhati-hati dalam berbicara karena setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan. Allah berfirman “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa semua ucapan manusia dicatat oleh malaikat, baik itu ucapan yang membawa manfaat maupun yang mendatangkan mudarat. Oleh karena itu, seorang muslim harus senantiasa berpikir sebelum berbicara agar setiap perkataannya bernilai positif di sisi Allah SWT.
Selain itu, Allah SWT juga memerintahkan orang-orang beriman untuk berkata jujur dan baik “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Al-Ahzab:70-71)
Perkataan yang baik tidak hanya membawa kebaikan bagi orang lain, tetapi juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hadis tentang Pentingnya Menjaga Lisan
Rasulullah saw dalam banyak hadis juga menekankan pentingnya menjaga lisan. Beliau bersabda “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pedoman utama dalam berbicara. Seorang muslim hanya diperbolehkan berbicara jika perkataannya membawa kebaikan, dan jika ragu, lebih baik memilih diam.
Selain itu, Rasulullah saw juga mengingatkan bahwa lisan bisa menjadi penyebab utama seseorang masuk neraka. “Bukankah manusia diseret ke neraka di atas wajah mereka disebabkan oleh hasil ucapan lisan mereka?” (HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan betapa berbahayanya lisan jika tidak dijaga dengan baik. Ucapan yang tidak terkontrol, seperti fitnah, gibah, dan ucapan kasar, dapat menjerumuskan seseorang pada dosa besar.
Lisan, Pisau Bermata Dua
Lisan diibaratkan seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, lisan dapat digunakan untuk menyebarkan kebaikan, seperti menyampaikan ilmu, memberi nasihat, dan menghibur orang lain. Namun, di sisi lain, lisan juga bisa melukai hati orang lain melalui perkataan buruk, seperti fitnah, gosip, dan ujaran kebencian.
Oleh karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga adab berbicara. Hal ini mencakup berkata dengan lemah lembut, tidak menyakiti orang lain, dan menghindari pembicaraan yang sia-sia.
Menjaga lisan adalah bagian dari akhlak mulia yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Dalam Al-Quran dan hadis, menjaga lisan sangat ditekankan karena setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Dengan menjaga lisan, seorang muslim tidak hanya menjaga hubungan baik dengan sesama, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih kemuliaan di dunia maupun akhirat.
Marilah kita jadikan lisan sebagai alat untuk menyebarkan kebaikan, menghindari keburukan, dan selalu berusaha berkata yang benar sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan hadis. (Dian Safitri)





