
BANDUNG – “Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan hadiah dari Allah untuk Rasulullah yang memberikan berita gembira dan motivasi bagi seluruh umat Islam.” Hal ini disampaikan oleh Syeikh Mohammad Ismail dalam tausiyahnya pada Gebyar Isra’ Mi’raj (27/1/2025) di Masjid Daarut Tauhiid Bandung.
Kegiatan Gebyar Isra’ Miraj adalah bentuk kolaborasi antara Yayasan Daarut Tauhiid Rahmatan lil ‘alamin dengan Yayasan Daarut Tauhiid untuk memperingati hari bersejarah bagi umat Islam itu. Tahun ini, kajian spesial itu bertajuk “Menggali Hikmah Perjalanan Spiritual Isra’ Mi’raj sebagai Landasan Memperkokoh Keimanan dan Membangun Generasi Berakhlak Mulia.”
Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh jajaran santri akhwat, baik SMP, SMA, SMK, PDF (Pendidikan Diniyah Formal, dan BQ (Baitul Qur’an). Tak hanya santri, tampak jamaah umum pun antusias menghadiri kajian itu.
Dalam tausiyahnya, Syeikh Mohammad Ismail menyampaikan alur peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi pada Rasulullah. “Peristiwa ini dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama Isra’ adalah perjalanan dari Mekkah ke Masjidil Aqsa Palestina. Dan bagian kedua adalah Mi’raj yaitu perjalanan menuju Sidratul Muntaha” ujar Syeikh asal Mesir itu.
Setelah membahas penuh alur perjalanan Rasulullah hingga sampai di Sidratul Muntaha, Syeikh mengisahkan tentang Abu Bakar ash – Shiddiq yang tetap meyakini Rasulullah meskipun peristiwa Isra Mi’raj tidak dapat di terima oleh akal.
“Abu Bakar sangat yakin kepada Rasulullah karena beliau percaya bahwa Rasulullah adalah orang yang mustahil berdusta. Bukan hanya kejadian Isra Mi’raj saja, bahkan Rasulullah berkata bahwa beliau menerima wahyu dari Allah, Abu Bakar langsung mempercayainya,” terangnya.
Ia pun menyampaikan hikmah terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj. Salah satu hikmah yang tersirat yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj mengajarkan umat Islam untuk selalu mengingat akhirat dan senantiasa bertaubat kepada Allah.
“Peristiwa ini menguatkan iman kita, menambah kenal akhirat, menambah kenal surga dan neraka. Maka, setiap saat kita harus memohon ampunan kepada Allah, karena kita tidak pernah tahu kapan malaikat izroil akan mencabut nyawa kita,” tuturnya.
Setelah sesi tausiyah, acara berlanjut dengan sesi tanya jawab. Tampak antusias santri dan jamaah dalam mengajukan pertanyaan. Terakhir, syeikh menggiring jamaah untuk membaca selawat bersama dan melantunkan doa penutup. (Chusnul/Noviana)





