Dari Madinah, untuk Keberanian

Home

Dari Madinah, untuk Keberanian

Dari Madinah, untuk Keberanian

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Kamis (9/4/2026) menjadi penanda akhir dari perjalanan yang merangkum proses belajar dan bertumbuh. Para santri peserta program Dauroh Lughoh Arabiyah Sekolah DT Indonesia di Universitas Islam Madinah menuntaskan rangkaian kegiatan mereka dengan haflah, momen wisuda yang sarat makna.

 

Haflah ini menjadi titik temu antara usaha, doa, dan pengalaman yang terjalin sepanjang masa pembelajaran. Di balik setiap senyum yang mengembang, tersimpan perjalanan panjang. Menaklukkan keraguan, membiasakan diri dengan bahasa baru, dan berani melangkah keluar dari zona nyaman.

 

Hari-hari yang dilalui meninggalkan jejak yang tidak sederhana. Bahasa Arab yang semula terasa asing perlahan menjadi bagian dari keseharian. Percakapan demi percakapan terbangun. Dari yang terbata-bata hingga mengalir lebih percaya diri. Lingkungan yang mendukung pun menjadi ruang tumbuh, tempat kesalahan tidak dihindari, melainkan dijadikan bagian dari proses belajar.

 

Pengalaman ini menumbuhkan keberanian. Bukan hanya dalam merangkai kalimat, tetapi juga dalam membangun kepercayaan diri saat berinteraksi. Setiap kata yang terucap menjadi latihan, setiap dialog menjadi langkah menuju penguasaan yang lebih matang.

 

Suasana haru terasa ketika rangkaian kegiatan resmi ditutup. Rasa syukur mengalir, disertai harapan agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti di sini, melainkan terus hidup, digunakan, dan dikembangkan dalam perjalanan berikutnya.

 

“Banyak pengalaman berharga yang diperoleh para santri, terutama dalam penggunaan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Semoga ini menjadi bekal untuk meningkatkan kepercayaan diri dan keberanian mereka,” ungkap Haerudin, pendamping kegiatan Immersion.

 

Perjalanan ini mungkin telah usai secara formal, tetapi sesungguhnya menjadi awal yang baru. Dari Madinah, para santri pulang membawa beragam ilmu dan pengalaman yang membuat mereka semakin bersemangat untuk terus belajar.

 

Sebab setiap bahasa yang dikuasai membuka satu dunia baru. Dan kini, pintunya telah resmi mereka dorong terbuka. (Dian Safitri)