
Dalam ajaran Islam, terdapat kebiasaan Rasulullah saw yang sering dicontoh umat muslim, yaitu mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil, seperti tiga, lima, atau tujuh butir. Lalu, inilah alasan Rasulullah mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil yang sarat makna spiritual dan hikmah.
Meneladani Kebiasaan Rasulullah
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw menyukai bilangan ganjil dalam berbagai aspek ibadah dan kehidupan sehari-hari. Saat berbuka puasa, beliau biasa memakan beberapa butir kurma sebelum salat Maghrib.
Kebiasaan ini menjadi sunnah yang dianjurkan untuk diikuti. Dengan meneladani beliau, seorang muslim bukan hanya makan, tetapi juga menjalankan ibadah.
Allah Menyukai yang Ganjil
Dalam sebuah hadis disebutkan “Sesungguhnya Allah itu Maha Esa (Witr) dan menyukai yang ganjil.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, Rasulullah saw sering memilih bilangan ganjil dalam ibadah, seperti salat witir, doa, dan termasuk ketika mengonsumsi kurma.
Hadis tentang Tujuh Butir Kurma
Selain kebiasaan ganjil, terdapat pula hadis yang secara khusus menyebut angka tujuh. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang pada pagi hari memakan tujuh butir kurma Ajwa, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun dan tidak pula sihir.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan adanya keutamaan khusus pada tujuh butir kurma, terutama kurma Ajwa yang berasal dari Madinah.
Hikmah Spiritual di Baliknya
Mengonsumsi tujuh butir kurma bukan hanya soal jumlah, tetapi juga mengajarkan keyakinan terhadap sabda Rasulullah saw, mengamalkan sunnah dengan penuh keimanan, dan menjadikan hal sederhana sebagai bentuk tawakal kepada Allah
Jadi, inilah alasan Rasulullah mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil, bahkan tujuh butir karena Allah menyukai yang ganjil, meneladani sunnah Nabi saw, terdapat hadis tentang keutamaan tujuh kurma Ajwa, serta mengandung nilai tauhid dan tawakal.
Dari kebiasaan sederhana ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan makna dalam setiap detail kehidupan. Bahkan dari jumlah kurma yang kita makan, tersimpan nilai ibadah dan keberkahan. (Dian Safitri)





