Kisah Imam An-Nawawi: Bergelut dengan Ilmu hingga Akhir Hayat

Home

Kisah Imam An-Nawawi: Bergelut dengan Ilmu hingga Akhir Hayat

Kisah Imam An-Nawawi: Bergelut dengan Ilmu hingga Akhir Hayat

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Imam An-Nawawi dikenal sebagai salah satu ulama besar dengan keilmuan luar biasa. Ia merupakan penulis berbagai kitab masyhur seperti Riyadh Ash-Shalihin, Al-Arba’in An-Nawawiyah, Raudhah Ath-Thalibin, Al-Minhaj, dan masih banyak lagi. Selain menghasilkan karya-karya monumental, beliau juga mendidik banyak murid yang kelak menjadi ulama, tokoh, hingga pemimpin.

 

Imam An-Nawawi wafat pada usia 45 tahun. Meski usianya relatif singkat, beliau meninggalkan lebih dari lima puluh karya ilmiah yang hingga kini menjadi rujukan utama dalam dunia Islam. Namanya tetap harum, dan ilmunya terus hidup dan memberi manfaat bagi umat.

 

Biografi Singkat Imam An-Nawawi

Nama lengkap beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam An-Nawawi. Ia memiliki garis keturunan yang bersambung kepada Abdul Manaf, nenek moyang Rasulullah saw. Imam An-Nawawi lahir pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung yang kini termasuk wilayah Suriah.

 

Ayah beliau dikenal sebagai sosok yang bertakwa dan mencintai ilmu, serta mendidik An-Nawawi kecil dalam suasana penuh keimanan. Sejak usia dini, Imam An-Nawawi telah menghafal 30 juz Al-Qur’an. Ia juga mengikuti pelajaran formal seperti anak-anak lainnya, namun dengan semangat dan kesungguhan yang luar biasa.

 

Beliau menghafal kitab Tanbih fi Furu’ asy-Syafi’iyah hanya dalam waktu empat setengah bulan, dan bahkan telah menguasai seperempat masalah ibadah dari kitab Al-Muhadzdzab. Dalam satu hari, ia belajar kepada dua belas guru dengan berbagai bidang keilmuan.

 

Menangis Saat Diajak Bermain

Imam An-Nawawi kecil tumbuh seperti anak-anak lainnya, namun kecintaannya terhadap ilmu membuatnya berbeda. Saat berusia sekitar 10 tahun, seorang ulama bernama Syekh Yasin bin Yusuf Al-Marakasiy melewati kota Nawa. Syekh tersebut melihat seorang anak kecil yang menjauh dari teman-temannya dan sedang menangis.

 

Anak itu adalah Imam An-Nawawi. Ia menolak ajakan bermain dari teman-temannya karena lebih memilih membaca Al-Qur’an dalam tangis haru. Menyaksikan hal tersebut, Syekh Yasin berkata kepada seorang ahli Qur’an, “Anak ini akan menjadi orang yang paling alim dan zuhud di zamannya. Banyak orang akan mengambil manfaat dari ilmunya.”

 

Ketika ditanya apakah ia seorang peramal, Syekh Yasin menjawab, “Tidak. Allah-lah yang membuat saya berkata demikian.”

 

Ucapan itu kemudian disampaikan kepada ayah Imam An-Nawawi, yang sejak saat itu makin menjaga dan mendukung pendidikan serta hafalan putranya hingga khatam Al-Qur’an.

 

Hikmah dari Kisah Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi kecil memilih jalan ilmu daripada bermain seperti anak-anak pada umumnya. Meski mungkin sulit dibayangkan terjadi pada masa sekarang, kisah ini mengajarkan betapa berharganya waktu.

 

Beliau tidak membuang waktunya untuk hal yang sia-sia, tetapi memanfaatkannya untuk terus meningkatkan keimanan dan memperdalam ilmu. Itulah yang menjadikannya sosok imam besar yang warisan ilmunya tetap hidup meski raganya telah tiada.

 

Selama masa liburan sekolah, mari manfaatkan waktu sebaik mungkin. Waktu luang adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Bentuk rasa syukur itu adalah dengan memperbanyak ibadah, berbakti kepada orang tua, serta meningkatkan ilmu dan potensi diri. (Noviana)