
Waktu adalah satu-satunya sumber daya yang dimiliki manusia secara merata. Orang sukses seperti Elon Musk dan Aliko Dangote memiliki 24 jam yang sama dengan orang biasa. Perbedaan yang didapati bukanlah dari kuantitas melainkan kualitasnya. Kita pakai untuk apa waktu 24 jam dalam sehari? Berapa banyak waktu yang produktif dan berapa banyak yang sia-sia?
Islam sangat menghargai waktu dan kedisiplinan. Konsep salat tepat waktu adalah salah satu bentuk penghargaan tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Arifin & Sofa (2025) pelaksanaan salat tepat waktu membantu seseorang mengatur waktu dengan baik dan meningkatkan kedisiplinan. Selain itu, salat tepat waktu mengurangi kecenderungan seseorang untuk menunda-nunda sebuah pekerjaan atau amal saleh.
Masa muda adalah saat paling tepat untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana pendahulu muslimin yang sudah mencapai kesuksesan sejak belia bahkan mampu menaklukan ibu kota Romawi Timur (Bizantium). Para ilmuwan Islam juga mencapai puncak produktivitasnya sebelum usia 30 tahun, seperti Al-Biruni yang sudah terlibat dalam karya ilmiah serius sejak usia 17 tahun dan diakui sebagai pakar pada usia 22 tahun. Hal ini membuktikan bahwa kita juga memiliki peluang yang sama.
Sebagai pelajar muslim, sudah seharusnya kita menyoroti waktu sebagai bagian penting dari perjalanan menuntut ilmu. Memanajemen waktu dengan bijak adalah salah satu bentuk syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk menuntut ilmu dan belajar di hamparan luas bumi milik-Nya.
Allah SWT berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Waktu yang berlalu tidak bisa kembali dan kita benar-benar dalam kerugian jika menyia-nyiakannya. Kemampuan untuk mengelola waktu tidak perlu diawali dengan hal besar. Mulailah dari hal kecil yang diiringi tekad kuat untuk konsisten. Datang ke sekolah tepat waktu, tidak menunda tugas atau pekerjaan rumah, tidak scroll media sosial secara berlebihan, mengurangi bermain game online, dan langkah kecil lainnya. Semua hal tersebut akan memberikan dampak yang besar jika kita kerjakan dengan istikamah.
Dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw memberi nasihat kepada seseorang dengan bersabda, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum kematianmu.” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya, Al-Hakim no. 7846, dan Al-Baihaqi no.10248)
Seperti halnya waktu, masa muda juga tidak akan datang dua kali. Jika yang kali ini berlalu tanpa arti, maka kita tidak bisa membelinya di kemudian hari. Jadi, bertumbuhlah sepenuh hati, ambil semua peluang yang ada, habiskan jatah gagal, dan mari bertemu di masa tua tanpa penyesalan. (Putri)





