
Daarut Tauhiid (DT) dikenal dengan budayanya yang unik. Terdapat berbagai slogan dan abreviasi di tengah kehidupan santri. Yang paling dikenal diantaranya adalah HHN (Hadapi, Hayati, Nikmati) serta slogan “Pribadi Tangguh Pantang Mengeluh.” Tentunya ini bukan sekadar kata-kata penyemangat tetapi sebuah nilai yang sejak awal ditanamkan kepada santri. Selain ajaran untuk bergantung hanya kepada Allah SWT, santri DT dididik untuk menjadi sosok yang tangguh serta berkarakter kuat.
Nilai-nilai Daarut Tauhiid dikenalkan sejak masa orientasi dan diklat. Semua santri sekolah maupun santri program wajib mengikuti setiap tahap pengenalan lingkungan tersebut. Diklat yang dilakukan menghimpun berbagai tantangan dan masalah yang harus diselesaikan. Dari semua rintangan itulah slogan-slogan penyemangat digaungkan, termasuk pribadi tangguh pantang mengeluh.
Lantas, apakah slogan “pribadi tangguh pantang mengeluh” juga selaras dengan ajaran agama Islam? Tentunya, iya. Allah memerintahkan kita untuk tidak menjadi pribadi yang lemah. Perintah ini tertuang dalam firman-Nya: “Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.” (QS. Ali-Imran: 139)
Manusia adalah khalifah di bumi dan fitrahnya memiliki kemampuan menjadi pemimpin, termasuk memimpin dirinya sendiri. Kita harus mampu mengelola hati dari kecenderungan mengeluh terhadap semua hal yang sudah ditakdirkan kepada kita. Hari-hari menyesakkan akan berlalu, hal-hal sulit akan terlewati, dan apapun yang menjadi beban di pundak sejatinya sudah tertakar. Lelah adalah keniscayaan tetapi terus-menerus mengeluh bukanlah cara untuk menghadapinya.
Allah berjanji di dalam firmannya: “Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 182) Maka adalah kewajiban bagi manusia untuk meyakini bahwa tidak ada ujian yang melampaui kemampuannya.
Lalu, hal apa yang dapat kita ambil untuk mulai mengurangi sifat suka mengeluh? Langkah awal yang dapat dilakukan tentunya dengan meningkatkan kualitas ibadah. Allah berfirman: “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat.” (QS. Al-Ma’arij: 19-22)
Semakin baik ibadah kita, maka semakin kuat juga keyakinan kita pada Allah SWT. Hal tersebut akan menjadi pondasi terbentuknya pribadi yang tangguh dan dapat berdiri tegak menghadapi setiap ujian. Fokus kita akan mulai berubah, tidak hanya berkeluh-kesah tetapi kita berorientasi pada solusi. Allah akan membimbing orang-orang yang senantiasa beribadah dengan baik dan benar. (Putri)





