Karakter Jujur, Haruskah Ditanamkan Sejak Dini?

Home

Karakter Jujur, Haruskah Ditanamkan Sejak Dini?

Karakter Jujur, Haruskah Ditanamkan Sejak Dini?

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang jujur,” adalah sebuah kritik sosial populer yang disandarkan kepada almarhum Kasino Warkop. Kasino menyoroti bahwa integritas lebih penting dari sekadar kecerdasan. Sayangnya, kritik ini masih marak digaungkan karena kondisi Indonesia yang belum pulih dari berbagai kecurangan.

 

Kejujuran adalah salah satu elemen dalam pendidikan karakter. Menurut Aeni (2017), pendidikan karakter merupakan pendidikan yang paling sulit. Meskipun demikian, pendidikan ini harus tetap dilakukan karena memiliki urgensi yang berkaitan dengan kebahagiaan dan kesuksesan seseorang. Sehingga, guru dan orang tua memiliki peran aktif untuk menanamkan sifat jujur kepada anak sejak usia dini.

 

Jujur dalam bahasa Arab diambil dari kata sidqu atau shiddiq yang berarti benar, nyata, atau berkata benar. Maka, orang yang jujur akan senantiasa berlaku dan berkata apa adanya, sesuai dengan kenyataan yang ada. Tentunya sifat ini tidak ditanamkan dalam satu malam. Kejujuran harus dipaksakan dan dilatih agar dapat menjadi habit atau kebiasaan dalam kehidupan anak.

 

Sama halnya dengan kejujuran, kebiasaan berdusta juga tidak dididik dalam waktu yang singkat. Perilaku curang, culas, dan penuh kebohongan melalui proses yang panjang. Misalnya seorang anak yang dibiasakan mencontek, mengahalkan segala cara untuk mendapatkan peringkat atau seorang anak yang terbiasa menempuh jalur instan, masuk sekolah elit dengan bantuan “orang dalam.”

 

Kecurangan-kecurangan tersebut akan membunuh fitrah kejujuran di dalam diri seseorang secara perlahan. Awalnya, masih ada rasa gelisah, ketakutan, atau perasaan tidak enak saat berlaku tidak adil. Namun, lama-kelamaan perasaan itu akan luruh dan membuat seseorang mulai membenarkan perbuatan zalim.

 

“Seorang laki-laki mukmin dari keluarga Fir‘aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, ‘Tuhanku adalah Allah.’ Padahal, sungguh dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Jika dia seorang pendusta, dialah yang akan menanggung (dosa) dustanya itu, dan jika dia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkan kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Ghafir: 28)

 

Peran orang tua sebagai teladan sangat dibutuhkan. Mereka memiliki tanggung jawab langsung dalam menanamkan akidah, ibadah, dan akhlak kepada anak melalui pembiasaan dan pendampingan yang berkelanjutan. Sehingga, sebelum terjun untuk mendidik anak agar berlaku jujur, orang tua juga harus menjadi pribadi yang jujur termasuk dalam memberikan nafkah yang halal kepada anak.

 

Kejujuran adalah kunci agar anak dapat menjalani hidupnya dengan tenang. Sebagaimana disampaikan dalam sebuah hadis, “Tinggalkanlah yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu ketenangan, sedangkan dusta itu keraguan. (HR. Tirmidzi)

 

Orang tua tentunya ingin anak hidup dengan bahagia dan penuh ketentraman. Maka, mengajarkan akidah dan akhlak adalah langkah pertamanya. (Putri)