
Meski sangat ringan, lisan menjadi hal yang sangat berbahaya. Tidak sedikit orang di luar sana yang beranggapan bahwa orang banyak berbicara adalah orang hebat karna terlihat memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman. Namun di dalam agama Islam, diam dan menjaga lisan lebih dinilai baik karena memiliki banyak keutamaan.
Melansir Nu Online, Imam as-Syafi’i berkata “Ada tiga hal yang bisa menambah kecerdasan seseorang: pertama adalah berkumpul atau duduk bersama ulama, kedua adalah berkumpul dengan orang-orang saleh, dan ketiga adalah meninggalkan pembicaraan yang tidak berarti” (al-Syekh Muhammad bin Abdillah al-Jardani, al-Jawahir al-Lu’luiyyah fi Syarhi al-arba’in an-Nawawiyyah, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1442], halaman 147)
Pentingnya Menjaga Lisan
Allah memiliki sifat As-Sami’ yaitu Mahamendengar. Setiap ucapan akan tercatat oleh malaikat Rakib Atid dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Nasib, keselamatan, kemuliaan diri juga dapat terlihat dari lisan. Sehingga wajib bagi setiap Muslim untuk menjaga lisan dari berkata sia-sia bahkan mengandung dosa.
- Abdullah Gymnastiar mengibaratkan lisan seperti pistol yang memiliki peluru. Jika mengeluarkannya dapat mengakibatkan keburukan maka jalan terbaik adalah dengan menahannya sampai perkataan tersebut berdampak baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Dengan berbicara, maka kualitas diri akan nampak. Selain belajar untuk berbicara yang baik, Muslim juga harus belajar untuk diam.
Di dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga berpesan kepada umat Islam agar dapat menjadi orang yang memilih untuk diam jika tidak bisa berkata baik. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam hadits kelima belas dari kitab al-Arba’in an-Nawawiyyah karangan al-Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi. Rasulullah saw bersabda; “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari).
Dari petikan hadits tersebut, pesan Rasulullah sangat jelas, yaitu mendorong umatnya untuk menghemat ucapan jika tidak bisa berbicara dengan baik. Rasulullah memulai hadits ini dengan kalimat “man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir,” menunjukkan bahwa siapa pun yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, seharusnya melaksanakan kandungan hadits tersebut.
Hadits tersebut juga menyampaikan bahwa cara terbaik untuk menjaga lisan adalah dengan dua cara, yaitu berbicara baik atau diam ketika belum yakin tentang kebaikan perkataan yang akan dilontarkan.
Bahaya Banyak Bicara
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita tentang bahaya banyak berbicara.
“Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam itu berada pada lidahnya” (HR Imam Thabrani)
Lisan bisa diibaratkan seperti pedang bermata dua. Bisa menjadi sumber pahala dan juga menjadi sumber kemaksiatan untuk diri kita.
Diam itu mengandung hikmah yang banyak tapi sedikit orang yang melakukannya. Semakin banyak berbicara semakin berisiko untuk hati kita tergelincir. Tahan dari berbicara yang buruk dan bicaralah jika kata-kata itu ahsan. Hindari kata-kata yang bersifat negatif.
Dalam hal ini, maka setiap manusia hendaknya memperhatikan lisannya. Menjaga lisan atau bersikap diam merupakan bentuk kesempurnaan iman dan takwa seorang Muslim. (Chusnul)





