
Dzulqa’dah adalah bulan ke-11 dalam kalender Hijriah. Nama “Dzulqa’dah” berasal dari kata “qa’ada” yang berarti duduk atau berhenti, menandakan bahwa bulan ini adalah waktu di mana bangsa Arab pra-Islam menghentikan peperangan dan melakukan gencatan senjata.
Dalam Islam, Dzulqa’dah adalah salah satu dari empat bulan haram (suci), bersama Muharram, Rajab, dan Dzulhijjah, di mana peperangan dilarang dan umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Berikut beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Dzulqa’dah:
Perjanjian Hudaibiyah (6 H)
Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam yang terjadi di bulan Dzulqa’dah adalah Perjanjian Hudaibiyah. Pada tahun ke-6 Hijriah, Rasulullah saw bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat dari Madinah ke Makkah dengan niat menunaikan umrah. Namun, mereka dihadang oleh Quraisy di Hudaibiyah, sekitar 20 km dari Makkah.
Setelah negosiasi, kedua pihak menyepakati sebuah perjanjian damai yang dikenal sebagai Shulh al-Hudaibiyah. Meskipun terlihat merugikan kaum Muslimin pada awalnya, perjanjian ini membuka jalan bagi dakwah Islam berkembang pesat karena adanya masa damai antara kedua pihak.
Umrah al-Qadha (Umrah Pengganti) – Tahun 7 H
Pada tahun berikutnya setelah Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw dan para sahabat akhirnya dapat menunaikan umrah yang tertunda. Ini dikenal sebagai Umrah al-Qadha (umrah pengganti) dan dilaksanakan pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-7 Hijriah, sebagai bagian dari kesepakatan damai. Rasulullah saw memasuki Makkah dan tinggal selama tiga hari di kota tersebut sebelum kembali ke Madinah.
Umrah Rasulullah Selalu Dilakukan di Bulan Dzulqa’dah
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw melakukan empat kali umrah dalam hidupnya, dan semuanya dilakukan di bulan Dzulqa’dah, kecuali umrah yang digabungkan dengan haji. Ini menunjukkan keutamaan bulan ini sebagai waktu yang penuh keberkahan untuk melaksanakan ibadah umrah.
Persiapan Haji Wada
Rasulullah saw memulai perjalanan Haji Wada (Haji Perpisahan) dari Madinah pada akhir bulan Dzulqa’dah tahun ke-10 Hijriah. Ini adalah satu-satunya haji yang beliau laksanakan dan terjadi setahun sebelum wafatnya.
Haji Wada merupakan momen penting dalam penyempurnaan ajaran Islam, di mana turun ayat: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu…” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Bulan Dzulqa’dah bukan hanya mulia karena larangan berperang di dalamnya, tetapi juga karena menjadi saksi sejarah atas berbagai peristiwa penting dalam perjuangan dakwah Islam. Umat Islam diajak untuk memanfaatkan bulan ini dengan memperbanyak ibadah, menjauhi permusuhan, dan mengikuti jejak Rasulullah saw dalam menegakkan kedamaian dan ketakwaan. (Dian Safitri)





