Ketika Senja Menjadi Jendela Ilmu di Masjid Daarut Tauhiid

Home

Ketika Senja Menjadi Jendela Ilmu di Masjid Daarut Tauhiid

Ketika Senja Menjadi Jendela Ilmu di Masjid Daarut Tauhiid

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Senja di Masjid Daarut Tauhiid sore itu seperti punya cara sendiri untuk menenangkan hati. Cahaya yang merayap dari sela-sela jendela memantul lembut di dinding masjid, mengantar langkah para peserta yang berdatangan dengan wajah penuh harap. Dalam suasana yang damai dan teduh itu, STAI Daarut Tauhiid (DT) menggelar International Community Service sekaligus Pengabdian Kepada Masyarakat pada (12/11/2025). Dari awal hingga akhir, kegiatan berlangsung dengan ritme yang tenang, seolah seluruh ruangan ikut menjaga kekhidmatannya.



Kegiatan yang mengangkat tema “Enhancing Awareness of Islamic Economic Values in Muslim Family Education for the Congregation of Daarut Tauhiid Mosque Bandung” ini menghadirkan peserta dari berbagai latar: mahasiswa STAI DT, UPI, hingga masyarakat umum. Sejak pintu masjid dibuka, barisan peserta memenuhi ruang utama, duduk rapi sambil mempersiapkan diri menyimak materi.



Prof. Dr. Asad Zaman dari Akhuwat University, Lahore, Pakistan, menjadi pusat perhatian sore itu. Dengan suara yang lembut namun penuh penekanan, ia memaparkan nilai-nilai ekonomi Islam dalam kehidupan keluarga dan masyarakat modern. Penjelasannya mengalir tenang seperti aliran air, namun menyisakan riak kesadaran di wajah para pendengarnya. Contoh-contoh nyata yang ia bawakan membuat suasana masjid terasa hangat, seolah setiap nilai yang disebutkan menemukan ruang baru dalam hati para peserta.



Dari kejauhan, terlihat banyak peserta sibuk mencatat. Gesekan pena, ketukan keyboard laptop, dan helaan napas yang berusaha menyerap pemahaman, berpadu menjadi irama halus yang mengisi kesunyian masjid. Ketika sesi tanya jawab dimulai, suasana berubah hidup. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan tinggi-tinggi, mengajukan pertanyaan yang lahir dari rasa ingin tahu dan keinginan memahami lebih dalam.



Mamat Rohimat, Kabag Biro Humas dan Rumah Tangga STAI DT, berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. “Alhamdulillah, semoga kegiatan ini menjadi langkah berkelanjutan dalam menumbuhkan kesadaran, keberkahan, dan kontribusi positif bagi masyarakat luas,” ujarnya.



Acara ditutup ketika cahaya senja mulai menghilang. Para peserta bangkit, saling bersalaman, berbagi pandangan, dan melangkah keluar dari masjid dengan hati yang lebih lapang. Ada yang kembali dengan catatan penuh, ada pula yang hanya membawa satu-dua kalimat yang membekas. Namun semuanya sama-sama pulang dengan sesuatu yang terasa lebih berharga: sebuah pengetahuan yang tidak hanya dipahami, tapi ingin diamalkan.



Senja pun menghilang, tapi kehangatan ilmunya tertinggal. (Noviana)